Minggu, 14 Oktober 2012

Guruku Panutanku

TERSENTAK saat kita membaca berita headline “Dana Unsyiah Dikorup Rp 2 M” (Serambi, 27/9/2012). Dana itu seharusnya diperuntukkan untuk mahasiswa yang kurang mampu tapi mempunyai prestasi di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), yang dijuluki sebagai kampus Jantong Hatee Rakyat Aceh itu. Tuding menuding dan saling lempar tanggung jawab pun terjadi antara Mantan Rektor (Prof Dr Darni M Daud MA) dan Pj Rektor (Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng). Berita yang tak sedap ini telah mencuri perhatian masyarakat Aceh dalam beberapa hari terakhir. 

 Keduanya, bukan sekadar guru tapi mahaguru (guru besar), yang seharusnya memberi teladan kepada anak didik, bukan malah memperlihatkan perilaku tak terpuji dengan menggerogoti hak-hak mahasiswa miskin. Seharusnya guru menjadi panutan bagi murid-muridnya. Motto “Guruku Panutanku” harus diperlihatkan dalam perilaku, bukan malah sebaliknya berubah menjadi “Guruku Musuhku”. Dia akan jadi musuh ketika hak-hak anak didik digerogoti. Oh Tuhan! 

Ketulusan niat pemerintah daerah untuk meningkatkan SDM di Aceh melalui program bantuan biaya pendidikan untuk mahasiswa kurang mampu pun terkendala. Maka, wajar jika rakyat Aceh marah dan tidak ikhlas kasus ini terjadi. Maka, wajar sejumlah mahasiswa melakukan aksi demonstrasi di depan Kejaksaan Tinggi Aceh dan meminta pengusutan tuntas kasus ini (Serambi, 5/10/2012). Dan kita patut mengapresiasi, karena pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh tampak sangat serius menanggapi kasus ini. 

Sungguh disayangkan. Di lain kesempatan, Prof Darni yang mantan Cagub Aceh yang berpasangan dengan Dr Ahmad Fauzi membantah dirinya telah mengambil uang tersebut. Sang Profesor juga tampak geram kasus ini mencuat keluar, padahal publik berhak mendapatkan informasi (transparansi) tentang itu. Sungguh disayangkan mendengar pernyataan-pernyataan tak bertanggungjawab seperti ini. Padahal, masyarakat tahu bahwa kasus itu terjadi pada masa kepempinannya. Ada yang menduga-duga penggelapan ini ada hubungannya dengan Pemilukada Aceh, walau Prof Darni sendiri hanya mendapatkan suara di bawah 4 persen dan kejar-mengejar dengan perolehan suara Abi Lampisang. 

Sungguh sangat prihatin. Petinggi Unsyiah yang seharusnya menjadi panutan yang baik kepada mahasiswanya sendiri, kini telah berubah dengan prilaku tak bermoral yang diduga dilakukan oleh orang-orang bernama besar. Apa jadinya para lulusan kampus nantinya jika sang guru bersikap tak berakhlak seperti itu? Orang-orang tua mahasiswa pasti cemas akan masa depan anak-anaknya yang dikhawatirkan akan mengikuti jejak sang guru. Pilu! 

Jika memang tuduhan penggelapan dana Unsyiah seperti yang dituduhkan kepada dirinya itu benar, maka timbul pertanyaan di benak kita: Apa mungkin uang yang diduga telah diambil oleh Prof Darni digunakan untuk keperluan Pemilukada beberapa waktu lalu, saat dirinya mencalonkan diri sebagai orang nomor 1 di Aceh? Tapi yang pasti, banyak pegorbanan yang dilakukan Prof Darni, tidak hanya dalam bentuk persiapan mental dan sikap percaya diri yang kuat, namun juga usaha-usaha lain yang diperbuatnya. 

Hal itu, misalnya, membentuk Tim Sukses yang mengeluarkan tenaga ekstra untuk mendukungnya dan mendampinginya selama Pemilukada. Lalu melakukan kampanye-kampanye di setiap daerah dan mencetak spanduk-spanduk besar untuk dipajangkan di seluruh Aceh demi menarik perhatian masyarakat. Ini tidaklah sedikit uang yang harus dikeluarkan oleh Prof Darni, maka dari itu kita “mencurigai” bahwa uang yang diduga digelapkan buat keperluan pemilukada. 

Sangat menyedihkan Lalu timbul pertanyaan berikutnya: Jika tuduhan itu benar, bagaimanakah nasib mahasiswa didikannya, kalau gurunya ternyata seorang koruptor? Ini sungguh sangat menyedihkan melihat sosok panutan yang diharapkan menjadi cerminan yang baik buat mahasiswa, malah telah ternoda oleh nafsu duniawai yang hanya bersifat sementara. Guru adalah panutan seorang pelajar, jadi sudah pasti mahasiswa akan cenderung mengikuti gurunya karena mereka bercermin pada sang “induk”nya. Sangat disesalkan bukan? Secara tidak langsung, dia telah mengajarkan kejahatan kepada mahasiswanya. Bukankah seorang profesor itu memberikan contoh yang baik kepada mahasiswanya, supaya bisa memiliki sifat yang bisa dibanggakan oleh masyarakat dan melahirkan generasi penerus yang bernilai tinggi untuk perkembangan Aceh ke depan khususnya. 

 Lulusan sarjana luar negeri tidak seharusnya melakukan seperti perbuatan yang sedang dituduhkan kepadanya saat ini. Tentu perbuatan ini membuat rugi banyak pihak, terutama para orang tua mahasiswa yang berpendidikan di Unsyiah. Dengan susah payahnya mendapatkan uang untuk membayar biaya setiap semester kepada anaknya dan berharap mendapat beasiswa untuk meringankan beban mereka yang kurang mampu. Namun harapan itu sepertinya sia-sia, uang yang seharusnya telah mereka terima tersebut malah sudah dimakan oleh “tikus”. Jika panutannya saja seorang koruptor bagaimana nasib mahasiswanya sendiri. 

Yang sialnya lagi, sekarang kursi gubernur tidak dia dapatkan, namun jabatan rektor telah dicopot dan sekarang terancam pidana lagi. Duh, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak”. Begitulah kiranya. Aduh, sungguh malangnya nasib profesorku. Ibarat “sudah jatuh, tertimpa tangga, lalu tersiram air got pula”. 

Begitulah nasib Prof Darni yang sekarang hanya sebagai dosen biasa itu. Ini disebabkan sang profesor terlalu ambisius untuk menjadi penguasa dan mengendalikan anggaran. Padahal sebelum kejatuhannya, ia telah diingatkan agar tak maju dalam bursa Gubernur Aceh, tapi justru diacuhkannya. Maka, beginilah akibatnya. 

Perubahan dan harapan Lepas dari itu semua, tentu kita punya harapan yang besar untuk perubahan dan perkembangan di Aceh. Oleh sebab itu tanamkan nilai moral (karakter) pada penerus sejak sekarang agar korupsi tidak menjadi budaya kita. Langkah awal supaya korupsi tidak merajalela adalah berikan sanksi yang berat agar koruptor jera, karena realita yang ada sekarang kita lihat malah hukum lebih tajam ke atas daripada ke bawah. Padahal koruptor salah satu masalah sangat besar yang harus diatasi karena imbas itu semua kepada masyarakat. 

Semua orang menaruh keinginan agar kampus melahirkan para pendidik yang berjiwa pemimpin, seperti yang telah dicontohkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad saw yang cerdas, benar, amanah dan jujur. Seorang pemimpin yang punya visi dan misi untuk memajukan pendidikan di Aceh. Dan yang menjunjung tinggi nilai moral dan perilaku yang baik, bisa menjadi teladan dan panutan bagi generasi penerusnya ke depan. Jika guru besar saja seorang koruptor, bagaimana dia bisa menciptakan figur pendidik yang baik? Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip satu pepatah mengatakan: “Bercerminlah diri Anda dulu, baru kemudian memberi cerminan pada orang lain, siapa Anda dalam cermin itu”. Semoga kasus memalukan itu dapat diusut tuntas oleh pihak berwenang dan Aceh kembali punya masa depan yang baik dengan lahirnya generasi baru yang cerdas juga bermoral. Semoga! 

* Nurul Maulidar, Mahasiswi Jurusan APK Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: nurol_mauli@yahoo.comSumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar